Bagi sebagian besar orang, lembaga pemasyarakatan—atau yang lebih akrab kita sebut lapas—adalah ujung dari sebuah nasib sial. Ia adalah kotak beton raksasa tempat berkumpulnya ampas-ampas sosial, ruang isolasi bagi mereka yang gagal berkompromi dengan hukum normatif. Ketika pintu gerbang besi setinggi lima meter itu berdentang menutup, dunia luar menganggap kehidupan seorang manusia telah selesai, atau paling tidak, ditunda sampai batas waktu yang ditentukan hakim.

Namun, jika kita bersedia menanggalkan kacamata moralitas publik sejenak dan melihatnya dengan jernih, lapas adalah sebuah ironi yang puitis. Di luar sana, orang-orang urban kota besar rela membayar jutaan rupiah demi mengikuti kelas mindfulness, berburu tiket digital detox, atau mengasingkan diri ke resor terpencil di Ubud demi mencari apa yang mereka sebut "kedamaian batin".

Padahal, semua esensi dari pencarian spiritual itu—pembatasan ego, rutinitas yang menjemukan, hingga keterputusan dari hiruk-pikuk dunia—sudah disediakan oleh negara secara gratis di dalam lapas. Tentu saja, bedanya yang satu dikawal instruktur yoga berwajah teduh, yang satu lagi diawasi sipir berwajah lelah.

Dalam kacamata esoteris, lapas tidak ubahnya sebuah padepokan sekuler. Ia adalah tempat bertapa yang paling jujur, karena di sana, manusia dipaksa untuk tidak menjadi apa-apa.

Mari kita bedah arsitektur lapas ini sebagai sebuah rangkaian alegori spiritual yang agung. Langkah pertama seorang warga binaan memasuki lapas dimulai dengan perampasan identitas duniawi. Semua atribut yang selama ini menjadi berhala modernitas—gawai pintar, dompet tebal, pakaian bermerek, hingga jabatan mentereng—harus ditinggalkan di ruang registrasi. Mereka digantikan oleh kaus polos yang seragam dengan nomor registrasi di bagian dada mau pun punggung. Ini adalah alegori dari kematian kecil.

Di dalam lapas, Anda bukan lagi seorang manajer, anggota dewan, atau preman pasar yang ditakuti. Anda hanyalah seonggok daging yang bernapas. Proses pengunduran diri dari keduniawian ini mirip dengan konsep mulat sarira dalam kearifan Jawa, sebuah laku spiritual untuk melihat ke dalam diri sendiri tanpa silau oleh bayang-bayang ego. Ketika semua topeng sosial dilepas, yang tersisa adalah diri yang telanjang. Dan jujur saja, menghadapi diri sendiri yang telanjang tanpa distraksi notifikasi WhatsApp adalah ujian spiritual yang luar biasa berat.

Lalu, mari kita lihat tembok tinggi yang mengelilingi lapas, lengkap dengan kawat berduri di puncaknya. Secara fisik, tembok itu adalah pembatas kebebasan bergerak. Namun secara maknawi, tembok itu adalah batas dari keserakahan manusia. Di luar lapas, ruang jelajah kita seolah tak terbatas, membuat kita merasa bisa memiliki apa saja dan pergi ke mana saja. Ilusi kebebasan ini sering kali menjebak manusia dalam labirin keinginan yang tiada habisnya.

Di dalam lapas, ruang yang sempit itu justru memperluas dimensi ruang batin. Ketika tubuh Anda hanya bisa bergerak dari blok hunian ke lapangan olahraga, pikiran Anda dipaksa untuk menjelajah ke wilayah-wilayah yang selama ini diabaikan: ruang penyesalan, ruang kerinduan, dan kamar-kamar gelap masa lalu yang selama ini sengaja dikunci rapat. Tembok lapas berpesan dengan sangat dingin: "Kamu tidak bisa lari lagi ke mana-mana, maka satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam hatimu sendiri."

"Kamu tidak bisa lari lagi ke mana-mana, maka satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam hatimu sendiri."

Rutinitas di dalam lapas juga merupakan alegori dari keteraturan semesta yang mutlak. Ada jam yang kaku untuk bangun, makan, apel operan petugas, hingga waktu lockdown di mana pintu sel dikunci dari luar. Bagi manusia modern yang mendewakan kebebasan individu dan fleksibilitas, jadwal ini adalah siksaan. Namun, di balik kekakuannya, rutinitas ini mengajarkan penyerahan diri yang total—sebuah konsep pasrah yang murni.

Saat nyaring lonceng apel berbunyi, suka atau tidak suka, Anda harus berbaris. Saat pintu sel berdenting dikunci pada sore hari, Anda tahu Anda tidak punya kuasa lagi atas malam Anda sendiri. Di titik inilah ego manusia yang merasa bisa mengatur segalanya hancur lebur. Manusia dipaksa menyadari bahwa ada kekuatan yang lebih besar di luar dirinya yang memegang kendali. Di luar lapas kita menyebutnya takdir atau ketetapan Tuhan, di dalam lapas kita menyebutnya tata tertib lapas. Esensinya sama: belajar menerima apa yang tidak bisa diubah.

Unsur spiritual yang paling magis di dalam lapas sering kali terekam di dalam tempat ibadah, entah itu masjid, gereja, atau vihara di dalam kompleks penjara. Pernahkah Anda melihat saf salat di masjid lapas? Di sana, kekhusyukan tidak dibangun di atas citra kesalehan sosial. Pria bertato naga di lengan yang sedang menangis tersedu-sedu di atas sajadah lusuh adalah pemandangan yang karib. Doa-doa yang dipanjatkan di balik jeruji besi tidak lagi berisi permintaan muluk-muluk seperti naik jabatan atau membeli mobil baru. Doanya sangat elementer, sangat purba: mohon ampunan, kesehatan keluarga di rumah, dan ketabahan menjalani hari.

Ibadah di dalam lapas kehilangan aspek performatifnya. Tidak ada ruang untuk pamer kesalehan demi konten atau pengakuan publik. Tuhan di dalam lapas bukan lagi sosok abstrak yang dicari lewat diskusi teologis yang rumit di kafe-kafe hipster, melainkan kebutuhan riil, satu-satunya pegangan agar waras ketika dinding sel terasa makin menjepit.

Menariknya, para penghuni sel yang sempit itu sesungguhnya adalah cermin psikologis bagi satu sama lain. Tinggal dalam satu ruangan berukuran 4x6 meter bersama belasan kepala dengan latar belakang kejahatan yang berbeda-beda adalah sebuah laboratorium manusia yang ekstrem. Di sana, Anda dipaksa bergesekan dengan sifat-sifat terburuk manusia setiap hari: kemarahan, kelicikan, keegoisan, sekaligus kebaikan-kebaikan kecil yang tak terduga—seperti seorang narapidana kasus pembunuhan yang dengan telaten memijat temannya yang sedang demam.

Melalui interaksi yang intens dan tanpa sekat itu, seorang warga binaan sebenarnya sedang diajak bercermin. Watak buruk orang lain yang ia lihat setiap hari adalah proyeksi dari kegelapan yang juga ada di dalam dirinya sendiri. Lapas meruntuhkan ilusi bahwa kita lebih suci dari orang lain.

​Pada akhirnya, kehidupan di dalam lapas mengajarkan kita sebuah paradoks tentang kebebasan (kamardikan). Kita sering mengasihani mereka yang ada di balik jeruji besi karena kehilangan kebebasan fisik. Namun, berapa banyak dari kita yang berada di luar penjara, yang tampaknya bebas pergi ke mana saja, sebenarnya sedang mendekam di dalam penjara yang lebih besar? Penjara cicilan yang mencekik, penjara ekspektasi sosial, penjara gengsi, hingga penjara kecanduan validasi dunia maya.

Warga binaan di dalam lapas, dengan segala keterbatasannya, justru berkesempatan menemukan kemerdekaan yang sejati—yaitu kemerdekaan dari angan-angan keduniawian yang semu. Ketika seorang narapidana bisa tersenyum tulus sambil menikmati sekotak nasi cadong dan segelas teh hangat di pojok selnya, ia telah mencapai derajat spiritual yang tinggi: sebuah kemampuan untuk merasa cukup dalam kesempitan.

Lapas mungkin dirancang sebagai tempat hukuman. Namun bagi jiwa-jiwa yang mau membaca tanda-tandanya, ia adalah sebuah ziarah batin yang sunyi. Sebuah tempat di mana manusia harus turun ke titik nadir terendah, kehilangan segalanya, justru demi menemukan kembali satu-satunya hal yang paling berharga: dirinya sendiri dan Tuhannya.

Iklan
KOMUNITAS UMROH ROMBONGAN