DEMAK – Tantangan besar tengah dihadapi para aktivis kebudayaan dan pelaku kerajinan tangan di daerah, di mana mereka sering kali terjebak dalam dilema antara menjaga kemurnian karya dan tuntutan pemasaran yang kian kompetitif.

Dedikasi tinggi pada proses produksi sering kali membuat aspek promosi terbengkalai, sehingga karya-karya berkualitas sulit menembus pasar yang lebih luas.

Kondisi ini mendorong praktisi pemasaran digital sekaligus Alumni Duta Budaya RI, Yanuar Aris Budiharto, untuk melakukan aksi nyata melalui kolaborasi bersama Rumah BUMN BRI.

Dalam kegiatan Workshop Digital yang digelar pada Sabtu, 25 Oktober 2025, Aris membagikan strategi khusus untuk mengangkat potensi lokal ke level yang lebih tinggi.

Sebagai mantan delegasi kebudayaan pemuda Indonesia tahun 2010, ia memahami bahwa kualitas karya seniman Indonesia sebenarnya sudah layak bersaing di level internasional, namun terkendala oleh akses pasar yang terbatas.

"Akses pasar menjadi problem serius bagi pelaku seni-budaya. Melalui iklan online, kita bisa menargetkan pasar luar negeri secara spesifik, namun fokusnya bukan sekadar jualan satuan, melainkan mencari mitra reseller atau local partner di sana agar distribusi lebih berkelanjutan," ujar Aris dalam sesi tersebut.

Selama workshop berlangsung, Aris menekankan pentingnya membangun narasi diskusi dan mendengar masukan dari para tokoh akademisi guna menyelaraskan strategi promosi dengan identitas budaya yang kuat.

Para peserta dibimbing secara teknis untuk mengelola iklan di platform media sosial agar lebih tepat sasaran dalam menarik minat mancanegara.

Melalui inisiatif transformasi digital ini, diharapkan kekayaan budaya tradisional tidak hanya terjebak sebagai warisan masa lalu, tetapi mampu bertransformasi menjadi produk high-end yang relevan dan berdaya saing di era modern.

Komitmen ini menjadi langkah penting untuk memutus keterbatasan akses pasar yang selama ini dialami oleh para perajin dan pelaku kreatif lokal. (nh)

Iklan
KOMUNITAS UMROH ROMBONGAN